MAKALAH
SISTEM
PENCERNAAN TERNAK BABI DAN UNGGAS
( UNTUK MEMENUHI
TUGAS MATA KULIAH ANATOMI DAN FISIOLOGI TERNAK )
DISUSUN OLEH :
*
AKBAR *
NURUL MAGHFIRA SOLIHIN
*
AL MUHAJIRIN *
MUH YUSHAR BAHARUDDIN
*
ANDI FAJRIANI ASYIFA *
NURUL AINUL ANNISA
*
ASLIAH FITRIANI MANSUR * RIONA SAKINAH
*
AWALUDDIN * RISNAWATI
*
DEWI RAHAYU ASMIRANDA *
SISKA
*
ERIK JUANDA SUDIRMAN * SOFYA ANDA LESTARI
*
IAN HANUR PATURUSI *
SYAIFULLAH IDRIS
*
MUH RIDWAN MARSZIKAL *
WAHYU NUR HIDAYAT
KEMENTERIAN PERTANIAN
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN GOWA
TAHUN PELAJARAN 2019-2020
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar.......................................................................................................................... 1
Bab
I. Pendahuluan................................................................................................................... 2
A. Latar
Belakang.............................................................................................................. 2
B. Rumusan
Masalah......................................................................................................... 2
C. Tujuan
Penulisan........................................................................................................... 2
Bab II.
Pembahasan.................................................................................................................. 3
1. Sistem
Pencernaan pada Babi........................................................................................ 3
2. Sistem
Pencernaan pada Unggas................................................................................... 6
3. Saluran
Pencernaan Ternak Unggas.............................................................................. 7
Bab III. Penutup........................................................................................................................ 14
A. Kesimpulan
.................................................................................................................. 14
B. Saran............................................................................................................................. 14
Daftar Pustaka........................................................................................................................... 15
Kata Pengantar
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Sistem Pencernaan Babi dan Unggas” ini dengan lancar. Penulisan ini bertujuan untuk memenuhi
salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Anatomi dan
Fisiologi Ternak.
Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang kami
peroleh dari buku panduan, serta informasi dari media massa yang berhubungan
dengan “Sistem
Pencernaan Babi dan Unggas ”.
Kami harap makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua. Memang
makalah ini masih jauh dari sempurna, maka kami mengharapkan kritik dan saran
dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.
Bone, September
2019
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem pencernaan sangat berpengaruh dalam proses
kehidupan makluk hidup. Pengetahuan tentang organ pencernaan sangat penting karena berhubungan
erat dengan proses pencernaan termasuk absorbs. Proses pencernaan seperti
sebuah industri,
misalnya industri testil yang menghasilakan pakian, dalam industri ini ada tiga
kompenen yang harus di lewati yaitu input, proses, dan output selain itu ada
limbah. Kalau dalam
industri tekstil inputnya yaitu berupa bahan baku yaitu benang lalu dimasukkan
dalam mesin diproses untuk mengolah bahan baku tersebut lalu keluarlah hasilnya
berupa pakian, sama halnya dalam proses pencernaan ada tiga komponen yaitu
input, proses dan ouput. Kalau berbicara tentang pencernaan
inputnya berupa bahan makanan ,bahan makanan ini digunakan sebagai bahan baku, tidak mungkin
proses pencernaan terjadi tanpa adanya bahan baku yang akan dicerna. Oleh karna
itu akan dibahas dalam makalah ini mengenai anatomi dan fisiologi alat
pencernaan pada ternak monogastrik atau nonruminansia.
B. Rumusan Masalah
Masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini meliputi :
1. Persamaan dan Perbedaan proses pencernaan pada ternak babi dan unggas.
2. Fungsi alat pencernaan pada ternak unggas.
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu memberikan
gambaran mengenai proses pencernaan pada hewan monogastrik khususnya babi dan
unggas, serta mengenal dan memahami anatomi dan fungsi dari
organ pencernaan hewan monogatrik.
BAB II
PEMBAHASAN
Pencernaan adalah penguraian bahan makanan ke dalam
zat-zat makanan yang ada di saluran pencernaan untuk diserap dan digunakan oleh
jaringan tubuh. Sedangkan sistem pencernaan adalah sebuah sistem yang terdiri dari
saluran pencernaan yang dilengkapi dengan beberapa organ yang bertanggung jawab
atas pengambilan, penerimaan dan pencernaan bahan makanan dalam
perjalanannya melalui tubuh (saluran pencernaan) mulai dari rongga mulut sampai
ke anus.
Saluran pencernaan dapat dibagi atas : rongga mulut, oesophagus, lambung, usus halus, usus besar dan
anus. Beberapa organ pelengkap dari sistem pencernaan
adalah gigi, lidah, kelenjar-kelenjar air liur, hati dan pankreas.
1.
Sistem Pencernaan pada Babi
a.
Rongga mulut
Di dalam rongga mulut terdapat 3 alat pelengkap yaitu
gigi,lidah dan saliva. Gigi berguna untuk pencernaan mekanik, memecah makanan
menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sehingga dengan mudah dapat ditelan. Dalam proses ini
lidah membantu dalam pengambilan makanan dan memindah-mindahkan makanan dalam
rongga mulut untuk dicampur dengan saliva atau dikunyah dengan gigi kemudian
ditelan. Saliva dibentuk oleh kelenjar-kelenjar parotis, mandibularis
atau submaksilaris. Saliva pada babi mengandung enzim amylase dimana
granul zimogen yang dianggap sebagai precursor. Enzim ini
memecah ikatan glukosidik 1,4 dari pati menjadi ekstrin yang kemudian dirubah
sebagian besar menjadi maltose dan sebagian kecil glukosa.
Pada babi aktivitas enzim amylase pada rongga mulut
masih sangat terbatas.Produksi saliva ayam rata-rata 7-30 cc/hari, sedangkan pada
babi sekitar 15-20 liter/hari. Papilae perasa pada babi lebih berkembang dari pada
bangsa ayam.
b.
Oesophagus
Organ ini menghubungkan faring dengan lambung, berukuran
relative pendek dengan diameter potensial kira-kira 7 cm dikedua ujungnya dan
4,2 cm dibagian tengah. Bolus makanan dalam rongga mulut dapat berjalan
melalui oesophagus tersebut oleh adanya gerakan peristaltic, adanya tekanan
bukkofaringeal dan gravitasi bumi. Peristaltik tersebut terjadi setelah proses penelanan
bolus (peristaltic primer) dan akibat ransangan bolus-bolus itu sendiri
terhadap oesophagus dalam perjalanannya ke lambung (peristaltic sekunder).
c.
Lambung
Lambung pada babi kapasitasnya relative besar, rata-rata 5,7-8
liter. Daerah lambung pada babi dibedakan menjadi daerah
oesophagus, daerah fundus dan daerah pylorus.Daerah oesophagus
merupakan kelaanjutan dari oesophagus dan tidak mempunyai kelenjar, dilapisi oleh
epithelium bentuk “stratifiedsquamosa” dan pada daerah ini sering terjadi borok
(ulkus) pada babi. Daerah fundus mempunyai 3 kelenjar,yaitu :
1)
Sel chief, menghasilkan pepsinogen
2)
Sel parietal, menghasilkan HCL
3)
Sel leher mukosa, menghasilkan cairan lendir
Sedangkan daerah pylorus menghasilkan cairan lender
dan sedikit enzim protease. Aktifitas enzim proteolitis dari pepsin sangat rendah
pada waktu lahir sampai umur 2 minggu. Demikian pula HCl. Pada umur
kira-kira 20-25 hari kadar pepsin dan HCl sudah cukup tinggi. Pada anak babi
sering ditemukan adanya penggumpalan air susu yang berkonsistensi lembek yang
mungkin disebabkan oleh enzim proteolitik sejenis rennin pada anak-anak
ruminansia (Hill,1970), yang mempunyai sifat menggumpalkan pada pH sedikit
asam. Gumpalan tersebut akan hilang bila enzim pepsin dan
HCl sudah cukup tinggi.
d.
Usus halus
Pada babi usus halus terdiri dari duodenum, jejunum dan
ileum. Disebelah usus halus terdapat bangunan lain yaitu pankreas, kelenjar empedu dan hati. Daerah ini
merupakan tempat terjadinya proses digesti atau absorpsi pakan. Diantara ketiga
bagian tersebut, duodenum mempunyai ukuran terbesar dan terpendek. Ada 3 duktus
yang bermuara bersama-sama di duodenum yaitu :
1)
Ductus pancreaticus
2)
Ductus cysticus dari kantong empedu
3)
Ductus hepaticus dari hepar
Pada babi pankreas tidak menempel pada duodenum, akan tetapi
bermuara sendiri pada duodenum pada papilla minor. Ductus hepaticus
bergabung dengan ductus cystius membentuk common bile duet yang bermuara pada
duodenum pada papilla mayor. panjang usus kira-kira 15 kali panjang badan.
Berat pankreas ternak babi bertambah sampai dengan 6 kali lipat
dari waktu lahir sampai umur 23 hari, sedangkan aktivitasnya naik sampai 20 kali lipat. Pankreas terdiri
dari bagian yang bersifat endokrin yang terdiri dari pulau-pulau langerhans
yang mensekresikan insulin dan bagian eksokrin. Bagian eksokrin
merupakan bagian terbesar yang terdiri dari “asini” dan bagian ini membuat
cairan yang akan disekresikan ke duodenum melaui duktusnya.
e.
Usus besar
Usus besar panjangnya 4-4,5 meter. Terdiri dari 3
bagian yaitu kolon, sekum dan rectum. Pada sekum dan
kolon terjadi penimbunan pakan sisa dari hasil pencernaan di usus halus.Babi
mempunyai sekum relative pendek dan pada sekum terjadi proses fermentasi serat
kasar dengan hasil VFA,air dan elektrolit.Sekum merupakan bangunan silinder dan
buntu dengan volume sekitar 1,5 liter,panjangnya hanya mencapai 12 – 20 cm dan
lebarnya kira-kira 8 – 10 cm.
Kolon babi mula-mula lebarnya sama dengan sekum makin
kebelakang makin mengecil.Bentuk kolon babi agak unik yang disebu dengan
“spiral labyrinth” umumnya terdiri dari 3 gulungan yang masing-masing
berganda,dan panjangnya sekitar 4 – 5 meter.
f.
Anus atau cloaca
Anus merupakan lubang untuk pengeluaran sisa hasil
pencernaan yang tidak diserap tubuh.
2. Sistem Pencernaan Pada Unggas
Sistem digesti adalah suatu lintasan organ yang
menghubungkan antara lingkungan dengan proses metabolisme alamiah pada hewan
(Nesheim et al., 1979). Pencernaan diartikan sebagai pengelolaan pakan sejak
masuk dalam mulut sehingga diabsorbsi. Secara garis besar fungsi saluran
pencernaan adalah sebagai tempat pakan ditampung, tempat pakan dicerna, tempat
pakan diabsorbsi dan tempat pakan sisa yang dikeluarkan. (Kamal, 1994).
Sistem pencernaan meliputi saluran pencernaan (paruh,
mulut, kerongkongan, lambung, kelenjar, empedal, usus halus, usus buntu, usus
besar, kloaka, anus) dan alat tambahan (hati, pankreas, lien).
Unggas mengalami proses pencernaan yang berbeda dengan
hewan lain, meskipun mempunyai kesamaan pada prosesnya. Sebagaimana hewan lain
proses pada saluran pencernaan unggas menggunakan tiga prinsip:
1.
Secara mekanik.
Pencernaan secara mekanik pada unggas berlangsung pada
empedal. Pakan di dalam empedal dengan adanya kontraksi otot empedal dengan
bantuan grit akan diubah menjadi pasta.
2.
Secara kimiawi/enzimatis.
Pencernaan secara enzimatis terutama dibantu dengan
adanya senyawa kimia dan kerja dari enzim yang dihasilkan oleh alat-alat
pencernaan.
3.
Secara mikrobiologik.
Pencernaan secara mikrobiologik terjadi dengan adanya
mikrobia yang ikut berperan dalam proses pencernaan. Pada ayam pencernaan
secara mikrobiologik tidak berperan besar seperti pada ternak yang lain,
hanya sedikit ditemukan mikrobia pada tembolok dan usus besarnya. Pada tembolok
ditemukan beberapa bakteri aktif yang menghasilkan asam organik seperti asam
asetat dan asam laktat dan juga pada ceca terjadi sedikit pencernaan
hemiselulosa oleh bakteri (Kamal, 1994).
Secara umum pencernaan pada unggas meliputi aspek:
1) Digesti yang terjadi pada paruh, tembolok,
proventrikulus, ventrikulus (empedal/gizzard), usus halus, usus besar, dan
ceca;
2) Absorpsi yang terjadi pada usus halus (small
intestinum) melalui vili-vili (jonjot usus);
3) Metabolisme yang terjadi pada sel tubuh yang kemudian
disintesis menjadi protein, glukosa, dan hasil lain untuk pertumbuhan badan,
produksi telur atau daging, pertumbuhan bulu, penimbunan lemak, dan
menjaga/memelihara tubuh pada proses kehidupannya.
3. Saluran Pencernaan Ternak Unggas
Saluran pencernaan dapat dipandang sebagai tabung
memanjang yang dimulai dari mulut sampai anus dan pada bagian dalam dilapisi
oleh mukosa. Organ pencernaan atau digesti secara garis besar digambarkan
seperti gambar di bawah ini:
Sistem pencernaan terdiri dari seluran pencernaan dan
organ asosori. Saluran pencernaan merupakan organ yang menghubungkan dunia luar
dengan dunia dalam tubuh hewan, yaitu proses metamolik di dalam tubuh.
Saluran pencernaan terdiri dari 11 bagian antara lain:
1)
Mulut
2)
Esophagus (Kerongkongan)
3)
Crop (Tembolok)
4)
Proventriculus (Lambung kelenjar)
5)
Gizzard (Empedal)
6)
Duodenum
7)
Usus halus (Small Intestine)
8)
Ceca (Usus Buntu)
9)
Rectum (Usus Besar)
10)
Kloaka
11)
Sementara organ pencernaan tambahan terdiri dari 2 bagian antara lain:
a)
Pangkreas
b)
Hati
2. Fungsi dari Masing-masing Saluran Pencernaan
1)
Mulut
Mulut ayam tidak memiliki lidah, pipi, dan gigi.
Langit-langitnya lunak, tetapi memiliki rahang atas dan bawah yang menulang
untuk menutup mulut. Rahang atas melekat pada tulang tengkorak dan yang bawah
bergantung. Langit-langit kertas dibagi oleh celah sempit yang panjang di
bagian tengah yang terbuka ke bagian saluran nasal. Lubang ini dan tidak adanya
langit-langit lunak menjadikan tidak mungkin bagi burung untuk melakukan
penghampaan untuk menghisap air ke dalam mulut. Burung harus menyeduk air ke
atas bila minum dan membiarkannya turun ke kerongkongan oleh adanya gaya gravitasi.
Kedua rahang berhubungan sebagai paruh. Lidah
berbentuk seperti pisau yang memiliki permukaan kasar di bagian belakang untuk
membantu mendorong makanan ke esophagus. Saliva dengan enzim amilase disekresikan oleh kelenjer
di mulut. Namun, pakan melalui mulut lajunya terlalu cepat sehingga sedikit
terjadi perubahan pada pencernaan disini.
2)
Oesophagus
Oesophagus sering disebut juga kerongkongan yang
berupa pipa tempat pakan, melalui saluran ini dari bagian belakang mulut
(pharynx) ke proventrikulus. Bagian dalam kerongkngan terdapat kelenjar mukosa
yang berfungsi membasah makanan sehngga makanan menjadi licin. Pada dinding
kerongkongan terdapat otot-otot yang mengatur gerakan peristaltic, yaitu gerak
meremas-remas makanan yang berbentuk gumpalan-gumpalan untuk didorong masuk ke
proventrikulus.
3)
Crop (tembolok)
Sebelum kerongkongan memasuki rongga tubuh, ada bagian
yang melebar di salah satu sisinya menjadi kantong yang di kenal sebagai crop
(tembolok). Tembolok berperan sebagai tempat penyimpanan pakan. Sedikit atau
bahkan tidak ada proses pencernaan disini, kecuali pencampuran sekresi saliva
dari mulut yang dilanjutkan aktivitasnya di tembolok.
4)
Proventriculus
Proventriculus adalah suatu pelebaran dari
kerongkongan sebelum berhubungan dengan gizzard (empedal). Kadang-kadang disebut
glandula stomach atau true stomach. Disini, gastric juice diproduksi. Pepsin,
suatu enzim untuk membantu pencernaan protein, dan hidrocoloric acid disekresi
oleh glandular cell. Oleh karena pakan berlalu cepat melalui proventriculus
maka tidak ada pencernaan material pakan disini. Akan tetapi, sekresi enzim
mengalir kedalam gizzard sehingga dapat bekerja disini.
5)
Gizzard (empedal)
Gizzard sering kali juga disebut muscular stomach
(perut otot). Lokasinya berada di antara ventrikulus dan bagian atas usus
halus. Gizzard memiliki dua pasang otot yang sangat kuat sehingga ayam mampu menggunakan
tenaga yang kuat. Mukosa permukaan gizzard sangat tebal, tetapi secara tetap
tererosi. Reruntuhan gizzard tertinggal bila kosong, tetapi bila pakan masuk,
otot berkontraksi. Partikel pakan yang lebih besar menyebabkan kontraksi juga
semakin cepat. Biasanya, gizzard mengandung material yang bersifat menggiling,
seperti grit, karang dan batu kerikil. Partikel pakan segera digiling menjadi
partikel kecil yang mampu melalui saluran usus. Material halus akan masuk
gizzard dan keluar lagi dalam beberapa menit, tetapi pakan berupa meterial
kasar akan tinggal di gizzard untuk beberapa jam.
6)
Usus halus (small intestine)
Usus halus merupakan organ utama tempat
berlangsungnya pencernaan dan absorpsi produk pencernaan. Berbagai enzim yang
masuk ke dalam saluran pencernaan ini berfungsi mempercepat dan
mangefisiensikan pemecahan karbohidrat, protein, dan lemak untuk mempermudah
proses absorpsi.
Pada ayam dewasa, panjang usus halus sekitar 62 inci
atau 1,5 m. Secara anatomis, usus halus dibagi menjadi tiga bagian, yaitu
duodenum, jejunum, dan ileum.
a)
Duodenum(12 jari)
ü Bermula dari ujung distal gizzard
ü Berbentuk kelokan, disebut duodenal loop
ü Bermuara 2 saluran yaitu dari pancreas dan kantong empedu.
b)
Jejenum (usus kosong)
Makanan mengalami pencernakan kimiawi oleh enzim yang
dihasilkan didindig usus. Enzim-enzim yang dihasilkan dinding usus sebagai
berikut :
ü Enterokinase : fungsi, mengaktifkan tripsinogen yang
dihasilkan pankreas.
ü Erepsin: mengubah dipeptida/peptone menjadi asam
amino
ü Maltase: mengubah maltosa menjadi glukosa
ü Disakarase: mengubah disakarosa menjadi monosakarida
ü Peptidase: mengubah polipeptida menjadi asam amino
ü Sukrase: mencerna sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa
ü Lipase: mengubah trigliserida menjadi gliserol dan
asam lemak.
c)
Ilium (Usus penyerapan)
Sepanjang permukaan lumen usus halus terdapat banyak
lipatan/lekukan yang disebut vili atau jonjot usus. Vili berfungsi memperluas
permukaan usus sebagai proses penyerapan zat makanan akan lebih sempurna.
Setiap vilus mengandung pembuluh limfa yang di sebut lacteal dan pembuluh
kapiler.
7)
Ceca (usus buntu)
Diantara usus halus dan usus besar, terdapat dua
kantong yang disebut sebagai ceca (usus buntu). Dalam keadaan normal, panjang setiap
ceca cekitar 6 inci atau 15 cm. Pada unggas dewasa yang sehat, ceca berisi
pakan lembut yang keluar-masuk. Akan tetapi, tidak ada bukti mengenai peran
serta dalam pencernaan. Hanya sedikit air terserap, sedikit karbohidrat dan
protein dicerna berkat bantuan beberapa bakteri.
8)
Usus besar
Panjang usus besar sekitar 10 cm dan diameternya dua
kali usus halus, hal ini dapat dilihat pada ayam dewasa.Bentuknya melebar dan
terdapat pada bagian akhir usus halus dan kloaka. Berfungsi
mengatur kadar air sisa makanan. Di dalam usus besar terdapat bakteri Esecherichia coli yang
membusukkan sisa-sisa
makanan menjadi feses. Pembusukan menyebabkan feses lunak dan mudah dikeluarkan.
Bagian akhir usus besar (rectum) tidak terjadi lagi
penyerapan air. Rectum dapat berkontraksi sehingga menimbulkan terjadinya
defekasi yaitu pengeluaran zat-zat sisa makanan melalui anus.
9)
Kloaka
Kloaka sering disebut common sewer, yaitu saluran
umum tempat saluran pencernaan, saluran reproduksi dan saluran kencing
bermuara.
Air kencing yang sebagian besar merupakan endapan asam
urat (dalam bentuk pasta berwarna putih) dikeluarkan melalui kloaka bersama
sisa pencernaan atau tinja. Kloaka berbentuk bulat terletak pada akhir saluran
pencernaan.
10)
Vent
Vent (anus) adalah lubang bagian luar dari cloaca.
Pada ayam betina, ukurannya sangat bervariasi karena dipengaruhi oleh masa
produksi atau tidak. Ketika bertelur, ukuran vent lebih besar daripada tidak
berproduksi.
11)
Organ pencernaan tambahan
Organ-organ tertentu berkaitan erat dengan pencernaan
sebagai saluran sekresi kedalam saluran pencernaan. Fungsinya membantu dalam
pemprosesan pakan organ tersebut yaitu pankreas, lever, kantong empedu.
a) Pankreas
Pankreas terletak di antara duodenal loop pada usus
halus. Pankreas merupakan suatu kelenjer yang berfungsi sebagai kelenjer
endokrin maupun sebagai kelenjer eksokrin. Sebagai kelenjer endokrin, pankreas
mensekresikan hormon insulin dan glukagon. Sementara sebagai kelenjer eksokrin,
pangkreas mensekrsikan cairan yang diperlukan sebagai proses pencernaan di
dalam usus halus, yaitu pencreatic juice. Cairan ini selanjutnya mengalir
kedalam duodenum melalui pancreatic duct (saluran pankreas), dimana lima enzim
yang kuat membantu pencernaan pati, lemak, dan protein.
Beberapa enzim dari pankreas disimpan dan disekresikan
dalam bentuk inaktif dan menjadi aktif pada saat berada di saluran pencernaan.
Tripsinogen adalah enzim proteolitik yang diaktifkan di dalam usus halus oleh enterokinase,
suatu enzim yang disekresikan dari mukosa usus. Tripsinogen diaktifkan menjadi
tripsin. Kemudian, tripsin akan mengaktifkan kimotripsinogenmenjadi
kimotripsin. Enzim yang lainnya-nuklease, lipase dan amilase-disekresikan dalam
bentuk aktif. Beberapa enzim membutuhkan kondisi lingkungan optimal untuk dapat
berfungsi.
b) Liver (hati)
Dari perut dan usus halus, sebagian besar pakan yang
diserap masuk kedalam vena portal menuju hati, suatu kelenjar terbesar kedalam
tubuh. Hati tersusun dari dua lobi besar.
Fungsi fisiologi hati sebagai beriku:
1)
Sekresi empedu.
2)
Detoksifikasi persenyawaan racun bagi tubuh.
3)
Metabolisme protein, karbohidrat, dan lipida.
4)
Penyimpan vitamin.
5)
Penyimpan karbohidrat.
6)
Destruksi sel-sel darah merah.
7)
Pembentukan protein plasma.
8)
Inaktifasi hormon polipeptida.
Fungsi utama hati dalam pencernaan dan absorpsi adalah
produksi empedu. Empedu penting dalam proses penyerapan lemak pakan dan
ekskresi limbah produk, seperti kolesterol dan hasil sampingan degradasi
hemoglobin. Warna kehijauan empedu disebabkan karena produk akhir destruksi sel
darah merah, yaitu biliverdin dan dilirubin.
Volume empedu tergantung pada.
ü Aliran darah
ü Status nutrisi unggas
ü Tipe pakan yang dikonsumsi
ü Sirkulasi empedu enterohepatic.
c) Kantong empedu (gallblader)
Kantung empedu berisi empedu, yang dihasilkan
oleh hati dan berguna untuk mengemulsikan lemak.
Perbedaan sistem pencernaan antara ternak ruminansia
dengan ternak unggas dan kuda terletak pada lambung mereka, yaitu dimana ternak
ruminansia memiliki lambung kompleks seperti rumen, reticulum, omasum, dan
abomasum sedangkan pada ternak unggas hanya memilki
lambung tunggal yaitu abomasum saja, sedangkan pada kuda tidak memiliki
struktur lambung seperti pada ternak ruminansia, sehingga tidak dapat melakukan
proses fermentasi selulosa.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dilihat dari sistem pencernaan, ternak unggas dan babi memiliki persamaan.
Persamaan yang dimiliki kedua ternak tersebut adalah memiliki sistem pencernaan
mogastrik. Saluran
pencernaan pada ternak monogastrik terdiri dari mulut, oesophagus, lambung, (ventriculus), duodenum, jejunum, ileum, caecum, intestinum crassum, rectum dan anus. Berbeda dengan
ternak ruminansia atau poligastrik yang memiliki 4 bagian pada lambungnya yang
masing-masingnya mempunyai fungsi spesifik. Proses
pencernaan pada unggas terjadi secara mekanik, khemik
(enzimatis), dan mikrobiologik.
B. Saran
Untuk meningkatkan mutu dan relevansi, penyusunan
makalah ini mempertimbangkan pula berbagai kecendrungan baru dalam teori
belajar, pendekatan belajar pembelajaran, maupun kecendrungan
global pendidikan.
Penulis menyadari, bahwa isi
makalah ini masih jauh dari sempurna. Karena itu kritik masukan dan sumbang saran pembaca
sangat kami harapkan.
Daftar Pustaka
Akoso, B. T. 2002. Kesehatan Unggas. Kanisius: Yogyakarta.
Blakely, J. dan Bade, D. H. 1994. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University
Press: Yogyakarta
Junqeira, L.C. & Jose Carneiro (1980). Basic Histology. Lange Medical
Publications, Clifornia.
Mukhtar, Ashry. 2006. Ilmu Produksi Ternak Perah.
Lembaga Pengembangan pendidikan dan UPT Penerbitan dan
UNS Press. Surakarta.
Parakkasi, Aminuddin. 2006. Ilmu Nutrisi dan Makanan
Tenak MONOGASTRIK Vol IB. UI-Press. Jakarta
Raven, P.H., and Johnson, G.B. (1986). Biology. Times Mirror/ Mosby College
Publishing.


