Senin, 07 Oktober 2019

SISTEM PENCERNAAN TERNAK BABI DAN UNGGAS


 

MAKALAH 


SISTEM PENCERNAAN TERNAK BABI DAN UNGGAS
( UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH ANATOMI DAN FISIOLOGI TERNAK )





      DISUSUN OLEH :

* AKBAR                                                          * NURUL MAGHFIRA SOLIHIN             
* AL MUHAJIRIN                                            * MUH YUSHAR BAHARUDDIN
* ANDI FAJRIANI ASYIFA                             * NURUL AINUL ANNISA
* ASLIAH FITRIANI MANSUR                      * RIONA SAKINAH
* AWALUDDIN                                                 * RISNAWATI
* DEWI RAHAYU ASMIRANDA                    * SISKA
* ERIK JUANDA SUDIRMAN                         * SOFYA ANDA LESTARI
* IAN HANUR PATURUSI                               * SYAIFULLAH IDRIS
* MUH RIDWAN MARSZIKAL                       * WAHYU NUR HIDAYAT


KEMENTERIAN PERTANIAN
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN GOWA    
TAHUN PELAJARAN 2019-2020






DAFTAR ISI

Kata Pengantar..........................................................................................................................         1
Bab I. Pendahuluan...................................................................................................................         2
A.     Latar Belakang..............................................................................................................         2
B.     Rumusan Masalah.........................................................................................................         2
C.     Tujuan Penulisan...........................................................................................................         2
Bab II. Pembahasan..................................................................................................................         3
1.      Sistem Pencernaan pada Babi........................................................................................         3
2.      Sistem Pencernaan pada Unggas...................................................................................         6
3.      Saluran Pencernaan Ternak Unggas..............................................................................         7
Bab III. Penutup........................................................................................................................       14
A.     Kesimpulan ..................................................................................................................       14
B.     Saran.............................................................................................................................       14
Daftar Pustaka...........................................................................................................................       15




Kata Pengantar

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Sistem Pencernaan Babi dan Unggas” ini dengan lancar. Penulisan ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Anatomi dan Fisiologi Ternak.
Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang kami peroleh dari buku panduan, serta informasi dari media massa yang berhubungan dengan “Sistem Pencernaan Babi dan Unggas ”.
Kami harap makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua. Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.




Bone,    September  2019


Penyusun














BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sistem pencernaan sangat berpengaruh dalam proses kehidupan makluk hidup. Pengetahuan tentang organ pencernaan sangat penting karena berhubungan erat dengan proses pencernaan termasuk absorbs. Proses pencernaan seperti sebuah industri, misalnya industri testil yang menghasilakan pakian, dalam industri ini ada tiga kompenen yang harus di lewati yaitu input, proses, dan output selain itu ada limbah. Kalau dalam industri tekstil inputnya yaitu berupa bahan baku yaitu benang lalu dimasukkan dalam mesin diproses untuk mengolah bahan baku tersebut lalu keluarlah hasilnya berupa pakian, sama halnya dalam proses pencernaan ada tiga komponen yaitu input, proses dan ouput. Kalau berbicara tentang pencernaan inputnya berupa bahan makanan ,bahan makanan ini digunakan sebagai bahan baku, tidak mungkin proses pencernaan terjadi tanpa adanya bahan baku yang akan dicerna. Oleh karna itu akan dibahas dalam makalah ini mengenai anatomi dan fisiologi alat pencernaan pada ternak monogastrik atau nonruminansia.

B.     Rumusan Masalah
Masalah-masalah yang akan dibahas dalam makalah ini meliputi :
1.   Persamaan dan Perbedaan proses pencernaan pada ternak babi dan unggas.
2.   Fungsi alat pencernaan pada ternak unggas.

C.    Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu memberikan gambaran mengenai proses pencernaan pada hewan monogastrik khususnya babi dan unggas, serta mengenal dan memahami anatomi dan fungsi dari organ pencernaan hewan monogatrik.


                                                                       

BAB II
PEMBAHASAN

Pencernaan adalah penguraian bahan makanan ke dalam zat-zat makanan yang ada di saluran pencernaan untuk diserap dan digunakan oleh jaringan tubuh. Sedangkan sistem pencernaan adalah sebuah sistem yang terdiri dari saluran pencernaan yang dilengkapi dengan beberapa organ yang bertanggung jawab atas pengambilan, penerimaan dan pencernaan bahan makanan dalam perjalanannya melalui tubuh (saluran pencernaan) mulai dari rongga mulut sampai ke anus.
Saluran pencernaan dapat dibagi atas : rongga mulut, oesophagus, lambung, usus halus, usus besar dan anus. Beberapa organ pelengkap dari sistem pencernaan adalah gigi, lidah, kelenjar-kelenjar air liur, hati dan pankreas.

1.       Sistem Pencernaan pada Babi

a.        Rongga mulut
Di dalam rongga mulut terdapat 3 alat pelengkap yaitu gigi,lidah dan saliva. Gigi berguna untuk pencernaan mekanik, memecah makanan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sehingga dengan mudah dapat ditelan. Dalam proses ini lidah membantu dalam pengambilan makanan dan memindah-mindahkan makanan dalam rongga mulut untuk dicampur dengan saliva atau dikunyah dengan gigi kemudian ditelan. Saliva dibentuk oleh kelenjar-kelenjar parotis, mandibularis atau submaksilaris. Saliva pada babi mengandung enzim amylase dimana granul zimogen yang dianggap sebagai precursor. Enzim ini memecah ikatan glukosidik 1,4 dari pati menjadi ekstrin yang kemudian dirubah sebagian besar menjadi maltose dan sebagian kecil glukosa.
Pada babi aktivitas enzim amylase pada rongga mulut masih sangat terbatas.Produksi saliva ayam rata-rata 7-30 cc/hari, sedangkan pada babi sekitar 15-20 liter/hari. Papilae perasa pada babi lebih berkembang dari pada bangsa ayam.
b.        Oesophagus
Organ ini menghubungkan faring dengan lambung, berukuran relative pendek dengan diameter potensial kira-kira 7 cm dikedua ujungnya dan 4,2 cm dibagian tengah. Bolus makanan dalam rongga mulut dapat berjalan melalui oesophagus tersebut oleh adanya gerakan peristaltic, adanya tekanan bukkofaringeal dan gravitasi bumi. Peristaltik tersebut terjadi setelah proses penelanan bolus (peristaltic primer) dan akibat ransangan bolus-bolus itu sendiri terhadap oesophagus dalam perjalanannya ke lambung (peristaltic sekunder).
c.        Lambung
Lambung pada babi kapasitasnya relative besar, rata-rata 5,7-8 liter. Daerah lambung pada babi dibedakan menjadi daerah oesophagus, daerah fundus dan daerah pylorus.Daerah oesophagus merupakan kelaanjutan dari oesophagus dan tidak mempunyai kelenjar, dilapisi oleh epithelium bentuk “stratifiedsquamosa” dan pada daerah ini sering terjadi borok (ulkus) pada babi. Daerah fundus mempunyai 3 kelenjar,yaitu :
1)       Sel chief, menghasilkan pepsinogen
2)       Sel parietal, menghasilkan HCL
3)       Sel leher mukosa, menghasilkan cairan lendir
Sedangkan daerah pylorus menghasilkan cairan lender dan sedikit enzim protease. Aktifitas enzim proteolitis dari pepsin sangat rendah pada waktu lahir sampai umur 2 minggu. Demikian pula HCl. Pada umur kira-kira 20-25 hari kadar pepsin dan HCl sudah cukup tinggi. Pada anak babi sering ditemukan adanya penggumpalan air susu yang berkonsistensi lembek yang mungkin disebabkan oleh enzim proteolitik sejenis rennin pada anak-anak ruminansia (Hill,1970), yang mempunyai sifat menggumpalkan pada pH sedikit asam. Gumpalan tersebut akan hilang bila enzim pepsin dan HCl sudah cukup tinggi.
d.       Usus halus
Pada babi usus halus terdiri dari duodenum, jejunum dan ileum. Disebelah usus halus terdapat bangunan lain yaitu pankreas, kelenjar empedu dan hati. Daerah ini merupakan tempat terjadinya proses digesti atau absorpsi pakan. Diantara ketiga bagian tersebut, duodenum mempunyai ukuran terbesar dan terpendek. Ada 3 duktus yang bermuara bersama-sama di duodenum yaitu :
1)       Ductus pancreaticus
2)       Ductus cysticus dari kantong empedu
3)       Ductus hepaticus dari hepar
Pada babi pankreas tidak menempel pada duodenum, akan tetapi bermuara sendiri pada duodenum pada papilla minor. Ductus hepaticus bergabung dengan ductus cystius membentuk common bile duet yang bermuara pada duodenum pada papilla mayor. panjang usus kira-kira 15 kali panjang badan.
Berat pankreas ternak babi bertambah sampai dengan 6 kali lipat dari waktu lahir sampai umur 23 hari, sedangkan aktivitasnya naik sampai 20 kali lipat. Pankreas terdiri dari bagian yang bersifat endokrin yang terdiri dari pulau-pulau langerhans yang mensekresikan insulin dan bagian eksokrin. Bagian eksokrin merupakan bagian terbesar yang terdiri dari “asini” dan bagian ini membuat cairan yang akan disekresikan ke duodenum melaui duktusnya.
e.        Usus besar
Usus besar panjangnya 4-4,5 meter. Terdiri dari 3 bagian yaitu kolon, sekum dan rectum. Pada sekum dan kolon terjadi penimbunan pakan sisa dari hasil pencernaan di usus halus.Babi mempunyai sekum relative pendek dan pada sekum terjadi proses fermentasi serat kasar dengan hasil VFA,air dan elektrolit.Sekum merupakan bangunan silinder dan buntu dengan volume sekitar 1,5 liter,panjangnya hanya mencapai 12 – 20 cm dan lebarnya kira-kira 8 – 10 cm.
Kolon babi mula-mula lebarnya sama dengan sekum makin kebelakang makin mengecil.Bentuk kolon babi agak unik yang disebu dengan “spiral labyrinth” umumnya terdiri dari 3 gulungan yang masing-masing berganda,dan panjangnya sekitar 4 – 5 meter.
f.         Anus atau cloaca
Anus merupakan lubang untuk pengeluaran sisa hasil pencernaan yang tidak diserap tubuh.

2.     Sistem Pencernaan Pada Unggas
Sistem  digesti adalah suatu lintasan organ yang menghubungkan antara lingkungan dengan proses metabolisme alamiah pada hewan (Nesheim et al., 1979). Pencernaan diartikan sebagai pengelolaan pakan sejak masuk dalam mulut sehingga diabsorbsi. Secara garis besar fungsi saluran pencernaan adalah sebagai tempat pakan ditampung, tempat pakan dicerna, tempat pakan diabsorbsi dan tempat pakan sisa yang dikeluarkan. (Kamal, 1994).
Sistem pencernaan meliputi saluran pencernaan (paruh, mulut, kerongkongan, lambung, kelenjar, empedal, usus halus, usus buntu, usus besar, kloaka, anus) dan alat tambahan (hati, pankreas, lien).
Unggas mengalami proses pencernaan yang berbeda dengan hewan lain, meskipun mempunyai kesamaan pada prosesnya. Sebagaimana hewan lain proses pada saluran pencernaan unggas menggunakan tiga prinsip:
1.       Secara mekanik.
Pencernaan secara mekanik pada unggas berlangsung pada empedal. Pakan di dalam empedal dengan adanya kontraksi otot empedal dengan bantuan grit akan diubah menjadi pasta.
2.       Secara kimiawi/enzimatis.
Pencernaan secara enzimatis terutama dibantu dengan adanya senyawa kimia dan kerja dari enzim yang dihasilkan oleh alat-alat pencernaan.
3.       Secara mikrobiologik.
Pencernaan secara mikrobiologik terjadi dengan adanya mikrobia yang ikut berperan dalam proses pencernaan. Pada ayam pencernaan secara mikrobiologik tidak berperan besar seperti pada ternak yang  lain, hanya sedikit ditemukan mikrobia pada tembolok dan usus besarnya. Pada tembolok ditemukan beberapa bakteri aktif yang menghasilkan asam organik seperti asam asetat dan asam laktat dan juga pada ceca terjadi sedikit pencernaan hemiselulosa oleh bakteri (Kamal, 1994).
Secara umum pencernaan pada unggas meliputi aspek:
1)      Digesti yang terjadi pada paruh, tembolok, proventrikulus, ventrikulus (empedal/gizzard), usus halus, usus besar, dan ceca;
2)      Absorpsi yang terjadi pada usus halus (small intestinum) melalui vili-vili (jonjot usus);
3)      Metabolisme yang terjadi pada sel tubuh yang kemudian disintesis menjadi protein, glukosa, dan hasil lain untuk pertumbuhan badan, produksi telur atau daging, pertumbuhan bulu, penimbunan lemak, dan menjaga/memelihara tubuh pada proses kehidupannya.

3.     Saluran Pencernaan Ternak Unggas
Saluran pencernaan dapat dipandang sebagai tabung memanjang yang dimulai dari mulut sampai anus dan pada bagian dalam dilapisi oleh mukosa. Organ pencernaan atau digesti secara garis besar digambarkan  seperti gambar di bawah ini:


Sistem pencernaan terdiri dari seluran pencernaan dan organ asosori. Saluran pencernaan merupakan organ yang menghubungkan dunia luar dengan dunia dalam tubuh hewan, yaitu proses metamolik di dalam tubuh.
Saluran pencernaan terdiri dari 11 bagian antara lain:

1)       Mulut
2)       Esophagus (Kerongkongan)
3)       Crop (Tembolok)
4)       Proventriculus (Lambung kelenjar)
5)       Gizzard (Empedal)
6)       Duodenum
7)       Usus halus (Small Intestine)
8)       Ceca (Usus Buntu)
9)       Rectum (Usus Besar)
10)   Kloaka
11)   Sementara organ pencernaan tambahan terdiri dari 2 bagian antara lain:
a)       Pangkreas
b)       Hati

2.      Fungsi dari Masing-masing Saluran Pencernaan
1)       Mulut
Mulut ayam tidak memiliki lidah, pipi, dan gigi. Langit-langitnya lunak, tetapi memiliki rahang atas dan bawah yang menulang untuk menutup mulut. Rahang atas melekat pada tulang tengkorak dan yang bawah bergantung. Langit-langit kertas dibagi oleh celah sempit yang panjang di bagian tengah yang terbuka ke bagian saluran nasal. Lubang ini dan tidak adanya langit-langit lunak menjadikan tidak mungkin bagi burung untuk melakukan penghampaan untuk menghisap air ke dalam mulut. Burung harus menyeduk air ke atas bila minum dan membiarkannya turun ke kerongkongan oleh adanya gaya gravitasi.
Kedua rahang berhubungan sebagai paruh. Lidah berbentuk seperti pisau yang memiliki permukaan kasar di bagian belakang untuk membantu mendorong makanan ke esophagus. Saliva dengan enzim amilase disekresikan oleh kelenjer di mulut. Namun, pakan melalui mulut lajunya terlalu cepat sehingga sedikit terjadi perubahan pada pencernaan disini.
2)       Oesophagus
Oesophagus sering disebut juga kerongkongan yang berupa pipa tempat pakan, melalui saluran ini dari bagian belakang mulut (pharynx) ke proventrikulus. Bagian dalam kerongkngan terdapat kelenjar mukosa yang berfungsi membasah makanan sehngga makanan menjadi licin. Pada dinding kerongkongan terdapat otot-otot yang mengatur gerakan peristaltic, yaitu gerak meremas-remas makanan yang berbentuk gumpalan-gumpalan untuk didorong masuk ke proventrikulus.
3)       Crop (tembolok)
Sebelum kerongkongan memasuki rongga tubuh, ada bagian yang melebar di salah satu sisinya menjadi kantong yang di kenal sebagai crop (tembolok). Tembolok berperan sebagai tempat penyimpanan pakan. Sedikit atau bahkan tidak ada proses pencernaan disini, kecuali pencampuran sekresi saliva dari mulut yang dilanjutkan aktivitasnya di tembolok.
4)       Proventriculus
Proventriculus adalah suatu pelebaran dari kerongkongan sebelum berhubungan dengan gizzard (empedal). Kadang-kadang disebut glandula stomach atau true stomach. Disini, gastric juice diproduksi. Pepsin, suatu enzim untuk membantu pencernaan protein, dan hidrocoloric acid disekresi oleh glandular cell. Oleh karena pakan berlalu cepat melalui proventriculus maka tidak ada pencernaan material pakan disini. Akan tetapi, sekresi enzim mengalir kedalam gizzard sehingga dapat bekerja disini.
5)       Gizzard (empedal)
Gizzard sering kali juga disebut muscular stomach (perut otot). Lokasinya berada di antara ventrikulus dan bagian atas usus halus. Gizzard memiliki dua pasang otot yang sangat kuat sehingga ayam mampu menggunakan tenaga yang kuat. Mukosa permukaan gizzard sangat tebal, tetapi secara tetap tererosi. Reruntuhan gizzard tertinggal bila kosong, tetapi bila pakan masuk, otot berkontraksi. Partikel pakan yang lebih besar menyebabkan kontraksi juga semakin cepat. Biasanya, gizzard mengandung material yang bersifat menggiling, seperti grit, karang dan batu kerikil. Partikel pakan segera digiling menjadi partikel kecil yang mampu melalui saluran usus. Material halus akan masuk gizzard dan keluar lagi dalam beberapa menit, tetapi pakan berupa meterial kasar akan tinggal di gizzard untuk beberapa jam.


6)       Usus halus (small intestine)
Usus halus merupakan organ utama tempat berlangsungnya pencernaan dan absorpsi produk pencernaan. Berbagai enzim yang masuk ke dalam saluran pencernaan ini berfungsi mempercepat dan mangefisiensikan pemecahan karbohidrat, protein, dan lemak untuk mempermudah proses absorpsi.
Pada ayam dewasa, panjang usus halus sekitar 62 inci atau 1,5 m. Secara anatomis, usus halus dibagi menjadi tiga bagian, yaitu duodenum, jejunum, dan ileum.
a)       Duodenum(12 jari)
ü  Bermula dari ujung distal gizzard
ü  Berbentuk kelokan, disebut duodenal loop
ü  Bermuara 2 saluran yaitu dari pancreas dan kantong empedu.
b)       Jejenum (usus kosong)
Makanan mengalami pencernakan kimiawi oleh enzim yang dihasilkan didindig usus. Enzim-enzim yang dihasilkan dinding usus sebagai berikut :
ü  Enterokinase : fungsi, mengaktifkan tripsinogen yang dihasilkan pankreas.
ü  Erepsin: mengubah dipeptida/peptone  menjadi asam amino
ü  Maltase: mengubah maltosa menjadi glukosa
ü  Disakarase: mengubah disakarosa menjadi monosakarida
ü  Peptidase: mengubah polipeptida menjadi asam amino
ü  Sukrase: mencerna sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa
ü  Lipase: mengubah trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak.
c)       Ilium (Usus penyerapan)
Sepanjang permukaan lumen usus halus terdapat banyak lipatan/lekukan yang disebut vili atau jonjot usus. Vili berfungsi memperluas permukaan usus sebagai proses penyerapan zat makanan akan lebih sempurna. Setiap vilus mengandung pembuluh limfa yang di sebut lacteal dan pembuluh kapiler.
7)       Ceca (usus buntu)
Diantara usus halus dan usus besar, terdapat dua kantong yang disebut sebagai ceca (usus buntu). Dalam keadaan normal, panjang setiap ceca cekitar 6 inci atau 15 cm. Pada unggas dewasa yang sehat, ceca berisi pakan lembut yang keluar-masuk. Akan tetapi, tidak ada bukti mengenai peran serta dalam pencernaan. Hanya sedikit air terserap, sedikit karbohidrat dan protein dicerna berkat bantuan beberapa bakteri.
8)       Usus besar
Panjang usus besar sekitar 10 cm dan diameternya dua kali usus halus, hal ini dapat dilihat pada ayam dewasa.Bentuknya melebar dan terdapat pada bagian akhir usus halus dan kloaka. Berfungsi mengatur kadar air sisa makanan. Di dalam usus besar terdapat bakteri Esecherichia coli yang membusukkan sisa-sisa makanan menjadi feses. Pembusukan menyebabkan feses lunak dan mudah dikeluarkan.
Bagian akhir usus besar (rectum) tidak terjadi lagi penyerapan air. Rectum dapat berkontraksi sehingga menimbulkan terjadinya defekasi yaitu pengeluaran zat-zat sisa makanan melalui anus.
9)       Kloaka
Kloaka sering disebut common sewer, yaitu saluran umum tempat saluran pencernaan, saluran reproduksi dan saluran kencing bermuara.
Air kencing yang sebagian besar merupakan endapan asam urat (dalam bentuk pasta berwarna putih) dikeluarkan melalui kloaka bersama sisa pencernaan atau tinja. Kloaka berbentuk bulat terletak pada akhir saluran pencernaan.
10)   Vent
Vent (anus) adalah lubang bagian luar dari cloaca. Pada ayam betina, ukurannya sangat bervariasi karena dipengaruhi oleh masa produksi atau tidak. Ketika bertelur, ukuran vent lebih besar daripada tidak berproduksi.
11)   Organ pencernaan tambahan
Organ-organ tertentu berkaitan erat dengan pencernaan sebagai saluran sekresi kedalam saluran pencernaan. Fungsinya membantu dalam pemprosesan pakan organ tersebut yaitu pankreas, lever, kantong empedu.
a)       Pankreas
Pankreas terletak di antara duodenal loop pada usus halus. Pankreas merupakan suatu kelenjer yang berfungsi sebagai kelenjer endokrin maupun sebagai kelenjer eksokrin. Sebagai kelenjer endokrin, pankreas mensekresikan hormon insulin dan glukagon. Sementara sebagai kelenjer eksokrin, pangkreas mensekrsikan cairan yang diperlukan sebagai proses pencernaan di dalam usus halus, yaitu pencreatic juice. Cairan ini selanjutnya mengalir kedalam duodenum melalui pancreatic duct (saluran pankreas), dimana lima enzim yang kuat membantu pencernaan pati, lemak, dan protein.
Beberapa enzim dari pankreas disimpan dan disekresikan dalam bentuk inaktif dan menjadi aktif pada saat berada di saluran pencernaan. Tripsinogen adalah enzim proteolitik yang diaktifkan di dalam usus halus oleh enterokinase, suatu enzim yang disekresikan dari mukosa usus. Tripsinogen diaktifkan menjadi tripsin. Kemudian, tripsin akan mengaktifkan kimotripsinogenmenjadi kimotripsin. Enzim yang lainnya-nuklease, lipase dan amilase-disekresikan dalam bentuk aktif. Beberapa enzim membutuhkan kondisi lingkungan optimal untuk dapat berfungsi.
b)       Liver (hati)
Dari perut dan usus halus, sebagian besar pakan yang diserap masuk kedalam vena portal menuju hati, suatu kelenjar terbesar kedalam tubuh. Hati tersusun dari dua lobi besar.
Fungsi fisiologi hati sebagai beriku:
1)       Sekresi empedu.
2)       Detoksifikasi persenyawaan racun bagi tubuh.
3)       Metabolisme protein, karbohidrat, dan lipida.
4)       Penyimpan vitamin.
5)       Penyimpan karbohidrat.
6)       Destruksi sel-sel darah merah.
7)       Pembentukan protein plasma.
8)       Inaktifasi hormon polipeptida.

Fungsi utama hati dalam pencernaan dan absorpsi adalah produksi empedu. Empedu penting dalam proses penyerapan lemak pakan dan ekskresi limbah produk, seperti kolesterol dan hasil sampingan degradasi hemoglobin. Warna kehijauan empedu disebabkan karena produk akhir destruksi sel darah merah, yaitu biliverdin dan dilirubin.

Volume empedu tergantung pada.
ü  Aliran darah
ü  Status nutrisi unggas
ü  Tipe pakan yang dikonsumsi
ü  Sirkulasi empedu enterohepatic.

c)       Kantong empedu (gallblader)
Kantung empedu berisi empedu, yang dihasilkan oleh hati dan berguna untuk mengemulsikan lemak.
Perbedaan sistem pencernaan antara ternak ruminansia dengan ternak unggas dan kuda terletak pada lambung mereka, yaitu dimana ternak ruminansia memiliki lambung kompleks seperti rumen, reticulum, omasum, dan abomasum  sedangkan  pada  ternak unggas hanya  memilki lambung tunggal yaitu abomasum saja, sedangkan pada kuda tidak memiliki struktur lambung seperti pada ternak ruminansia, sehingga tidak dapat melakukan proses  fermentasi selulosa.
















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dilihat dari sistem pencernaan, ternak unggas dan babi memiliki persamaan. Persamaan yang dimiliki kedua ternak tersebut adalah memiliki sistem pencernaan mogastrik. Saluran pencernaan pada ternak monogastrik terdiri dari mulut, oesophagus, lambung, (ventriculus), duodenum, jejunum, ileum, caecum, intestinum crassum, rectum dan anus. Berbeda dengan ternak ruminansia atau poligastrik yang memiliki 4 bagian pada lambungnya yang masing-masingnya mempunyai fungsi spesifik. Proses pencernaan pada unggas terjadi secara mekanik, khemik (enzimatis), dan mikrobiologik.

B.     Saran
Untuk meningkatkan mutu dan relevansi, penyusunan makalah ini mempertimbangkan pula berbagai kecendrungan baru dalam teori belajar, pendekatan belajar pembelajaran, maupun kecendrungan global pendidikan.
Penulis menyadari, bahwa isi makalah ini masih jauh dari sempurna. Karena itu kritik masukan dan sumbang saran pembaca sangat kami harapkan.









  

Daftar Pustaka
Akoso, B. T. 2002. Kesehatan Unggas. Kanisius: Yogyakarta.
Blakely, J. dan Bade, D. H. 1994. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University
Press: Yogyakarta
Junqeira, L.C. & Jose Carneiro (1980). Basic Histology. Lange Medical
Publications, Clifornia.
Mukhtar, Ashry. 2006. Ilmu Produksi Ternak Perah.
Lembaga Pengembangan    pendidikan dan UPT Penerbitan dan UNS Press. Surakarta.
Parakkasi, Aminuddin. 2006. Ilmu Nutrisi dan Makanan
Tenak MONOGASTRIK Vol IB. UI-Press. Jakarta
Raven, P.H., and Johnson, G.B. (1986). Biology. Times Mirror/ Mosby College
Publishing.